Sabtu, 8 Oktober 2011

Sejak Bila Al-Quran Dibukukan
Al-Quran telah ditulis sejak pertama kali turun, Rasulullah SAW mempunyai beberapa sekretari peribadi yang kerjanya hanya menulis Al-Quran. Mereka adalah para penulis wahyu dari kalangan sahabat terkemuka, seperti Ali, Muawiyah, ‘Ubai bin K’ab dan Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhum. Bila suatu ayat turun, baginda memerintahkan mereka untuk menuliskannya dan menunjukkan tempat ayat tersebut dalam surah.

Di samping itu sebahagian sahabat pun menuliskan Quran yang turun itu atas kemauan mereka sendiri, tanpa diperintahkan oleh Nabi. Mereka menuliskannya pada pelepah kurma, kepingan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Zaid bin Tabit, “Kami menyusun Quran di hadapan Rasulullah pada kulit binatang.”

Para sahabat senantiasa menunjukkan Quran kepada Rasulullah baik dalam bentuk hafalan maupun tulisan. Tulisan-tulisan Quran pada masa Nabi tidak terkumpul dalam satu mushaf, yang ada pada seseorang belum tentu dimiliki orang lain. Para ulama telah menyampaikan bahawa segolongan dari mereka, di antaranya Ali bin Abi Thalib, Muaz bin Jabal, Ubai bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Mas’ud telah menghafalkan seluruh isi Quran di masa Rasulullah. Dan mereka menyebutkan pula bahawa Zaid bin Tsabit adalah orang yang terakhir kali membacakan Quran di hadapan Nabi, di antara mereka yang disebutkan di atas.

Rasulullah SAW pulang ke rahmatullah di saat Quran telah dihafal dan tertulis dalam mushaf dengan susunan seperti disebutkan di atas, ayat-ayat dan surah-surah dipisah-pisahkan atau diterbitkan ayat-ayatnya saja dan setiap surah berada dalam satu lembar secara terpisah dalam tujuh huruf.

Tetapi Quran belum dikumpulkan dalam satu mushaf yang menyeluruh (lengkap). Bila wahyu turun, segeralah dihafal oleh para qurra’ dan ditulis para penulis; tetapi pada saat itu belum diperlukan membukukannya dalam satu mushaf, sebab Nabi masih selalu menanti turunnya wahyu dari waktu ke waktu. Di samping itu terkadang pula terdapat ayat yang menasikh (menghapuskan) sesuatu yang turun sebelumnya. Susunan atau tertib penulisan Quran itu tidak menurut tertib nuzulnya (turun), tetapi setiap ayat yang turun dituliskan di tempat penulisan sesuai dengan petunjuk Nabi ia menjelaskan bahawa ayat itu harus diletakkan dalam surah itu.

Andaikata pada masa Nabi SAW Quran itu seluruhnya dikumpulkan di antara dua sampul dalam satu mushaf, hal yang demikian tentu akan membawa perubahan bila wahyu turun lagi.

Az-zarkasyi berkata, “Quran tidak dituliskan dalam satu mushaf pada zaman Nabi agar ia tidak berubah pada setiap waktu. Oleh sebab itu, penulisannya dilakukan kemudian sesudah Quran turun semua, iaitu dengan wafatnya Rasulullah.”

Dengan pengertian inilah ditafsirkan apa yang diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit yang mengatakan, “Rasulullah SAW telah wafat sedang Quran belum dikumpulkan sama sekali.” Maksudnya ayat-ayat dalam surah-surahnya belum dikumpulkan secara tertib dalam satu mushaf.

Al-Katabi berkata, “Rasulullah tidak mengumpulkan Quran dalam satu mushaf itu kerana ia senantiasa menunggu ayat nasikh terhadap sebahagian hukum-hukum atau bacaannya. Sesudah berakhir masa turunnya dengan wafatnya Rasululah, maka Allah mengilhamkan penulisan mushaf secara lengkap kepada para Khulafa Arrasyidin sesuai dengan janjinya yang benar kepada umat ini tentang jaminan pemeliharaannya. Dan hal ini terjadi pertama kalinya pada masa Abu Bakar atas pertimbangan cadangan Umar Radhiyalahu ‘anhum.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan